Tole, "Bajingan yang Menyenangkan"
Lagi-lagi gue harus menulis tentang orang kucluk satu ini. Entah, gue harus menyebut dia apa, setidaknya dia lelaki sosialis.
Gue sering memanggilnya "Tole". Panggilan 'Bro' gue pada teman paling bedebah satu ini. Saat itu gue sedang gundah karena urusan percintaan. Ada masalah antara gue dengan cewe gue yang membuat gue harus mengakui 'anjingnya' mencintai. Ya, mencintai itu itu tidak enak, bahkan saya mengatakan bahwa mencintai itu seperti budak. Kita akan selalu kalah, mengalah, berkorban dan berjuang demi do'i. Beneran gak enak rasanya. Terkadang gue berfikir, perlakuan gue pada do'i jauh di atas perlakuan gue pada wanita yang melahirkan gue. Bener nggak? Kalian pasti pernah mengalami hal demikian bukan? Dimana saat cewe lo sedang sakit, lo perhatikan, lo belikan obat, lo jenguk kerumahnya. Pokoknya lo ribet dengan hal itu. Eh giliran emak lo sakit, jangankan merawat, ngebeliin obat aja lo tunda-tunda. Terkadang memang kita akui jika cinta adalah makhluk yang paling bedebah. Karena ia mampu membutakan hati kita.
Saat itu gue setres berat, ya setres berat sebab cemburu yang over dosis. Pertengkaran hebat terjadi antara gue dengan cewe gue. Kesedihan yang menyulut tersebut gue bawa sampai ke tempat kerja. Tak bisa dipungkiri, 'Tole' mampu mendeteksi aliran aura seseorang sedang sedih. "Koe lapo le kok merengut wae? Mbari tukaran ta awakmu? (kamu kenapa le kok sedih gitu? Habis bertengkar ta kamu?" sapanya.
Bel istirahat berdering. Gue keluar. Kemudian Tole mengajak gue ke ruang L. Dia mendudukan Gue, sembari berkata: "koe nyapo? Wong wedok wae mbok piker (kamu kenapa? Perempuan saja kamu fikirkan)" Sambil melihat gue. "Le, gimana cara agar kita bisa baikan lagi sama cewe kita. Aku habis bertengkar le." curhat gue padanya. Dia tertawa, sinis. "Bedebah," cuitan hati gue.
Gini....
"Sebelum kamu tak kasih tau gimana caranya agar cewe gak marah lagi sama kamu, kamu tak kasih ilmu bercinta dulu. Ingat le, kamu itu terlalu kamu bawa serius saat menjalin hubungan. Belum-belum kamu sudah mendatangi orang tuanya, mengatakan serius menjalaninya pada mereka. Itu goblok le. Ya jelas saja orang tuanya nyuruh kamu agar cepet-cepet nikahin dia. Diiming-iming dicarikan kerja lah, ditanggung kehidupan sehari-hari lah, ya itu wajar untuk mempromosikan anaknya agar laku. Aku ini sudah sering le, digitukan sama orang tuanya cewe-ceweku." Ungkapnya pada gue." Sudahlah, menjalani hubungan itu kamu buat santai saja. Kuasai emosi wanita, temukan benang merahnya, saya jamin mereka akan klepek-klepek. Kalau sudah klepek-klepek apapun diberikan padamu. Aku ini santai banget kalo sama wanita, mangkannya wanita mana yang tidak tunduk pada ku."
"Oke, sekarang kalo memang kamu gak bisa seperti aku yang santai. Aku kasih tau cara agar baikan lagi sama cewemu. Gini, nanti kamu datang, kamu temuin dia, tapi sebelum nemuin kamu beli bunga. Modal dikit gak apa-apa. Terus kamu bilang kalau kamu sayang dia, dan tidak ingin kehilangan dia. Ingat katakan dengan tegas. Dijamin pasti dia klepek-klepek dan memaafkan kamu."
Njing!! Ilmu bercintanya sudah tingkat dewa. Tak gue sangka, apa yang dia sarankan memang benar-benar ampuh. Setelah gue terapkan setiap wejangan si Tole, cewe gue yang awalnya marah hight level langsung memaafkan gue.
***
Tidak diragukan, kemampuan bercinta Tole memang sangat hebat. Wanita manapun tidak akan berdaya ketika melihat dan berinteraksi dengan Tole. Gaya slengekan yang khas dari Tole, kemampuan merayu dan berkomunikasinya benar-benar efektif. Gue selalu bertanya tentang cara komunikasi yang efektif dengan cewe, tapi jawaban dia tetap, bahwa itu adalah karakter bawaan. Saya sempat dites langsung dengan Tole untuk membuktikan pernyataannya itu, dan benar, gue hanya bertahan 10 menit berkomunikasi dengan Cewe. Selebihnya krik-krik, membosankan dan menjenuhkan. Gaya humoris, slengekan dan komunikasi Tole memang milik Tole, tidak bisa dipaksakan agar menjadi milik Gue. Mungkin inilah yang disebut, manusia bermacam-macam dan membawa karakter masing-masing. Dan Tole punya anugerah itu.
Kini kehidupan Tole sudah berbeda, dia telah bahagia dengan wanita terakhirnya, yaitu Istrinya.
***
Lagi-lagi gue harus menulis tentang orang kucluk satu ini. Entah, gue harus menyebut dia apa, setidaknya dia lelaki sosialis, teman yang baik dan peduli.
Ya, dia Tole, "Bajingan yang Menyenangkan".
-Agus Syairofi-
Komentar
Posting Komentar