PERJUDIAN WAKTU (Merasional Waktu dengan Tindakan Pasti)
Pernakah kamu menjalankan sesuatu hal tanpa tau arah kedepannya? Dibenak mu hanya "yang penting dijalani, urusan nanti kedepannya biar Tuhan yang mengatur." Misal pada dunia pendidikan, kamu hanya menjalani saja tanpa mempertimbangkan potensi atau bakatmu, terlebih kamu menjalani sebuah studi yang bukan ranah kompetensi mu, karena jurusan yang ditentukan pihak beasiswa, intervensi teman atau orangtua mu, "yang penting bisa kuliah, dapat beasiswa, dapat ijazah, urusan kerja dilikirkan nanti. That is a lie. Atau pada dunia kerja, kamu menjalani satu pekerjaan yang tidak sesuai dengan notabane pendidikan mu, atau skill mu, buat mu yang penting dapat duit, urusan jenjang karir difikir nanti. Atau mungkin pada relation hidup, pasangan lebih tepatnya. Kamu menjalani sebuah hubungan karena cinta, tidak mempertimbangkan kedepannya, kecocokan sifat, karakteristik, harmonisasi orang tua dan sebagainya, maka that is a lie. Kamu sedang menjalankan sebuah ketidak pastian yang bodoh, karena kamu sedang bergulat pada 'perjudian waktu'. Dan hasilnya ada dua kemungkinan, keberhasilan atau kegagalan. Dan saat kegagalan yang kamu dapati, maka kamu harus membangun dari nol, dan mengulang kembali sedari awal. Sedang jatah usiamu? Mulai menipis.
Sebenarnya manusia sudah diberi anugrah Tuhan yang begitu luar biasa. Ia adalah 'Akal'. Tuhan membekali manusia akal agar manusia bisa memikirkan suatu tindakan jauh kedepan, menganalisis kelebihan dan kekurangan, serta mempertimbangkan kelemahan dan kelebihannya. Akal pula menjadi instrumen untuk memikirkan segala resiko, mempersiapkan solusi atas segala kemungkinan-kemungkinan atau ancaman yang akan terjadi. Sehingga segala tindakan terencana, tertata dan terarah.
Kebanyakan dari kita lebih mengedepankan emosi sesaat tanpa melibatkan rasional kita. Sehingga jika terjadi sebuah variable yang memberikan problem, maka kita kebingungan dan terpaksa harus kalah. Sama halnya dengan kasus diatas. Saat seseorang hendak menentukan sebuah pendidikan, maka ada serangkaian pertanyaan yang harus dijawab olehnya. "Apakah pendidikan itu sesuai dengan bakatku? Apakah pendidikan tersebut sesuai dengan minatku?; Apakah pendidikan itu memberikan kontribusi jangka panjang pada masa depanku?; dll" Sehingga memaksa akal kita untuk bertafakkur mengkorelasikan segala variabel, menganalisisnya, mengolahnya dan melahirkan sebuah kesimpulan terbaik. Begitupun pekerjaan. Pertimbangan bahwa pekerjaan tersebut sesuai dengan bakat anda, sehingga anda ahli dalam menjalankannya. Jika tidak sesuai bakat anda dan anda paksakan menjalankannya karena motif ekonomi, maka anda lepas dari amanah. Kedua, pekerjaan tersebut harus sesuai yang anda sukai/anda minati, dengan demikian anda enjoy menjalankannya, dan anda tidak akan seperti bekerja melainkan seperti bermain permainan yang anda gemari. Jika pekerjaan itu bukan yang anda sukai, maka keluh kesah, ketidak nyaman, serta loyalitas pada pekerjaan anda akan sangat rendah. Bahkan anda tidak akan punya mimpi besar dari pekerjaan yang anda jalani. Fatalnya, anda akan memutus karir anda ditengah jalan. Apakah ada? Banyak.
Begitu pula soal asmara. Memilih calon suami atau istri harus rasional, difikirkan. Jangan hanya atas dasar cinta. Banyak terjadi kasus kegagalan pernikahan karena hanya landasan cinta. Tidak rasional. Nabi menganjurkan kita memilih pasangan secara rasional, dipertimbangkan agama, nasab, ekonomi dan fisiknya. Indikator tersebut dimaksudkan nabi agar kita mempertimbangkan atas apa yang kita butuhkan. Karena pernikahan itu "hunna libasullakum wa antum libasullahunn" sederhanaya saling melengkapi. Fikirkan jauh kedepan dari pernikahan itu. Ada beberapa Variabel yang harus difikirkan dari pernikahan. Pertama ialah kecocokan sifat. Pilih calon yang mampu mengimbangi sifatmu. Pada sebuah pernikahan minimal harus ada salah satu yang mempunyai sifat penyabar. Jika keduanya tidak memiliki hal demikian, maka besar kemungkinan akan terjadi banyak konflik yang berkelanjutan, karena ego diri yang sama-sama besar. Hal yang bisa diandalkan selain itu yah cinta dan pendidikan. Karena cinta bisa memberikan ikatan yang kuat, dan pendidikan bisa memberikan pengertian secara teoritik untuk bisa menahan ego. Kedua, harmonisasi keluarga. Sebelum menikah maka survey lah keluarganya. Bagaimana karakteristik dari keluarga calon, apakah bisa nanti disatukan dengan karakteriatik istri/suami dan orang tua. Jika memungkinkan maka lanjutkan, jika tidak memungkinkan maka fikirkan. Karena jika dilanjutkan akan berpotensi konflik internal antara menantu dan mertua, atau oranng tua dengan mertua yang melahirkan perang dingin. Jika mempelai mempunyai interpersonal yang bagus, atau memiliki rumah sendiri maka okelah. Jika tidak memiliki demikian, maka fikirkan ulang.
Sebegitu penting memikirkan tindakan sebelum kita mengimplementasikannya, karena dengan kita memikirkan tindakan yang akan kita lakukan (apapun itu ranahnya), maka potensi keberhasilan serta pintu kesuksesan akan terbuka lebar. Itulah fungsi akal yang dianugrahkan Tuhan. Yakni agar kita tidak berkutat pada....
.... Perjudian Waktu.
Hargai waktu, rencanakan matang atasnya, karena sedetik ia terlewati, maka selamanya ia tak akan bisa kembali.
______________
Catatan: Agus Syairofi
Komentar
Posting Komentar