DOWNSHIFTING
Pernahkah Anda (guru) merasa sudah maksimal menjelaskan, akan tetapi siswa masih belum mampu menerima materi yang anda jelaskan? Pernahkah Anda memberikan seabrek tugas agar mereka belajar dirumah untuk meningkatkan kontruks kognitifnya? Pernahkah anda kesal dengan situasi kelas anda yang gaduh, dan anda memarahi semua siswa anda agar mereka diam ketika anda menjelaskan, namun mereka kesulitan dalam menerima penjelasan anda? Pernahkah anda memberikan direct quetion (pertanyaan secara langsung) kepada siswa terbaik anda, namun ternyata dia kesulitan memikirkannya padahal dia jago dalam mengerjakan test tulis? Atau pada anda sendiri, pernakah anda kehilangan konten materi yang telah anda persiapkan dan anda hafalkan semalaman untuk anda berikan pada forum terbuka, namun ketika anda public speak malah anda kebingungan atas apa yang akan anda sampaikan? Ya! Perkenalkanlah bahwa keadaan terbut dikenal dengan downshirting.
Pada dunia pendidikan, tepatnya pada proses pembelajaran hal itu sering menimpa siswa kita. Keadaan dimana mereka kehilangan kemampuan alaminya. Kasus semacam itu sering terjadi, misalnya siswa tidak mampu dengan cepat menyerap materi yang diberikan guru, siswa terlalu sulit memahami pelajaran dikelas, serta siswa tidak mampu memecahkan masalah yang dibebankan padanya dari pembelajaran guru. Anehnya, ketika dijelaskan pad situasi lain dan pada kondisi llain dia mampu memahaminya secara sederhana. Seperti kasus Nia. Seorang siswi sekolh dasar. Disekolah dia kesullitan memahami konsep pembagian dari guru kelasnya, namun ketika dia dijelaskan oleh seorang guru les disebuah lembaga dengan cerita-cerita inspiratif metode contekstual matematic, dia dengan sangat mudah memahami konsepnya.
Ternyata masalah dari Nia, terletak pada tekanan emosinya. Saat seorang guru menekan emosi siswa dengan karaktersitik pembelajaran yang kaku, otoriter, penuh ancaman, dan beban yang begitu berat, maka kecerdasan anak akan tertutup, mengapa demikian? Dikatakan seorang psikolog Goleman (1995) "ketika otak menerima ancaman atau tekanan, maka kapasitas saraf untuk berfikir rasional mengecil. Otak "dibajak secara emosional". Dia juga mengatakan "Ketersediaan hubungan dan kegiatan saraf benar-benar berkurang atau sangat mengecil dalam situasi ini, dan otak tidak dapat mengakses keterapilan berpikir tingginya.
Maka seorang guru harus mampu menguasai emosi anak dengan memberikan pengalaman belajar yang relaks, fleksibel dan menyenangkan agar keterampilan berpikir dan kemampuan kinerja rasional nya bekerja secara maksimal.
Learning is Fun
Catatan: Agus Syairofi
Komentar
Posting Komentar