DOWNSHIFTING (TEACHER VERSION)
Konon katanya jadi guru itu enak. Kerjanya santai, tidak ada shift, liburnya pasti, ada libur panjang tiap semester, lebih banyak waktu buat kelauarga, gajinya banyak (untuk PNS), banyak tunjangan-tunjangan dan sebagainya. Begitulah kira-kira pandangan orang-orang non guru. Saya juga sering mendapatkan kata-kata eluhan seperti itu. Ya, saya tersenyum, mungkin karena mereka tidak terjun secara langsung di dunia pendidikan sehingga mereka memandang hanya dari luar profesi tersebut. Kata orang jawa Sawang-sinawang.
Guru adalah profesi terhormat dan mulia. Hal itu mutlak. Karena guru merupakan fasilitator siswa untuk mengembangkan bakat dan minatnya, segala potensinya pada semua domain, baik knowledge, social, spiritual maupun life skills. Semua telah menjadi hal yang wajib ditumbuh kembangkan oleh seoarang guru. Sehingga dengan tujuan besar tersebut seorang guru harus dituntut memiliki 4 kompetensi yang meliputi kompetensi pedagogik, sosial, kepribadian dan profesional untuk mencapai Great goal nya. Jadi kalau disimpulkan secara substantif, seorang guru wajib menjadi malaikat tak bersayap, yang sempurna tanpa cela. Bisa? Ya, bisa jika secara teoritis, namun secara praktis hal itu mustahil. Kalau tidak percaya lakukan reasearch pada guru seantero alam ini, jika anda menemukan maka saya akan kasih satu permen lollypop pada anda setiap satu guru. Berani?
Great goal yang begitu besar tersebut, menuntut guru harus membuat sebuah program perencanaan, proses dan evaluasi yang menjadi kewajiban administratifnya meliputi Prota, Promes, RME, Silabus, RPP, Rencana Evaluasi dll. Semua itu dibuat untuk pembelajaran dua semester (satu tahun pelajaran). Yah bayangkan saja jika dalam satu tahun ada 250 hari efektif, maka sudah dipastikan harus membuat rencana pembelajaran sebanyak 250 rencana (RPP) termasuk lampiran-lampirannya (Lembar materi pembelajaran, lembar evaluasi kognitif, afektif, psikomotorik; Lembar remedial dan pengayaan; dan lembar-lembar lainnya). Wow!!!
Selain beban administrasi pembelajaran di atas guru juga dibebani dengan UKG, Pembelajaran Daring, Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (SIM PKB), dan beban administratif lainnya, sehingga fokus dan konsentrasi mengajar guru menjadi terpecah. Beban dan tekanan psikologis tersebut menjadikan kapasitas saraf rasional mengecil, sehingga tidak dapat mengoptimalkan keterampilan berfikirnya. Selain itu ancaman atas tunjangan yang tidak cair jika tidak melakukan atau memenuhi nilai minimal kompetensi guru menjadi sebuah ultimatum yang membajak otaknya secara emosional. Sehingga saya jadi gelisah, dan kegelisahan saya melahirkan kehawatiran, yaitu guru - guru dengan beban dan tekanan begitu berat tersebut bukan menjadikan mereka pintar, malah menjadikan mereka.... (wkwk. Sudah ah gausa dilanjutkan).
Maka darinya, ada sebuah kabar bahwa PGRI akan mengupayakan untuk berdiskusi dengan pihak pemerintah dan mentri pendidikan agar guru tidak dibebani secara administratif begitu berat, dan nilai UKG bukan lagi menjadi patokan untuk guru pantas menerima tunjangan atau tidak (broadcast message di grup PGRI).
Ya, untuk pemerintah dan mendiknas, contoh kita dong para guru menciptakan pembelajaran yang efektif dan menyenangkan agar rasional dan kemampuan berpikir tinggi anak bisa optimal. Setidaknya buatlah peningkatan mutu guru dan beban administratif yang tidak membebani, namun membuat kita tertawa gembira dan bahagia. Mungkin salah satunya dengan JAMINAN SEJAHTERA yang MERATA.
Sudah itu saja.
Komentar
Posting Komentar