DOWNSHIFTING- FLOW- HIGH THINKING & LONG MEMORY

Sekali lagi saya ingin mengingatkan Anda bahwa downshifting dapat menyebabkan mengecilnya saraf untuk berpikir. Hal itu disebabkan ancaman dan tekanan yang mensabotase otak secara emosional. Sekali lagi pemicunya adalah 'tekanan' dan 'ancaman'. Maka sebagai seorang pendidik Anda harus menghindari kondisi tersebut yang dapat menekan emosi anak. Atau jika tidak, pembelajaran Anda kemungkinan besar akan gagal. Kecuali jika Anda tidak perduli dengan perkembangan kompetensi siswa Anda.

Tentunya sebagai seorang pendidik Anda tidak ingin anak didik Anda mengalami hal demikian. Maka darinya ada solusi untuk menghindari Downshifting.

Kabar gembirnya Downshifting dapat disikapi dengan bijak.  Dan dapat menghasilkan suatu hasil berpikir yang lebih sempurna. Seorang pendidik harus menciptakan sebuah keadaan antara rasional dan emosional. Mengkolaborasikan keduanya akan mengoptimalkan hasil pembelajaran yaitu hasil kecerdasan berganda, intelligent dan emotionnya. Keadaan ini disebut dengan 'flow'. Seorang psikolog dari Chicago University, Csikszentmihalyi (1990: 4) mengatakan bahwa flow adalah keadaan dimana seseorang sangat terlibat dalam sebuah kegiatan sehingga hal lain seakan tak berarti lagi.

Tuntutan itu perlu tapi bukan suatu keniscayaan. Seseorang dapat berkonsentrasi paling baik saat mereka sedikit lebih dituntut daripada biasanya, dan mereka dapat memberikan lebih dari biasanya. (Csikszentmihalyi, 1990). Tuntutan terlalu sedikit akan menjadiikan bosan, dan tuntutan terlalu besar maka akan menciptakan kecemasan. (Goleman: 1992).

Implikasinya ialah dengan membangun ikatan emosional antara pendidik dan siswa dengan cara menciptakan kesenangan dalam belajar, membangun hubungan dan menyingkirkan segala ancaman pada pembelajaran. Pendidik harus mampu menciptakan ikatan tersebut dengan komunikasi dan interaksi yang siswa sukai. Hal itu sama seperti kita melakukan pekerjaan yang kita sukai, maka kita akan merasa bahwa diri kita terlibat sepenuhnya pada kegiatan tersebut. Keadaan demikian akan menjadikan otak rasional kita benar-benar bekerja secara optimal, sehingga dapat menyerap informasi lebih maksimal dan menyimpannya pada memori jangka panjang dengan durasi lebih lama. Hal demikian bisa kita sebut dengan 'pengalaman bermakna'.

Maka sederhananya, tidak adanya ancaman, sedikit diberi tuntutan dan tantangan, akan menjadikan siswa berkonsentrasi dengan baik. Dan menciptakan pembelajaran yang disukainya akan menjadikan mereka terlibat pada pembelajaran tersebut. Goalnya, kolaborasi antara keduanya akan menjadikan siswa berfikir tinggi dan menyimpan memori lebih kuat.

Catatan: Agus Syairofi

___________
Referensi: Quantume Teaching. Bobby DePorter.

Komentar